Menjelang Satu Abad, GKJ Uji Kepemimpinan di Tengah Era Disrupsi
Wartagereja.co.id – Yogyakarta — Memasuki usia ke-95 tahun, Sinode Gereja-Gereja Kristen Jawa (GKJ) tidak berhenti pada perayaan seremonial. Dalam peringatan yang digelar 17 Februari 2026 di Kampus Sekolah Tinggi Agama Kristen (STAK) Marturia Yogyakarta, refleksi tentang kepemimpinan justru menjadi sorotan utama. Mampukah gereja tetap relevan di tengah gelombang disrupsi?
Mengangkat tema “Kepemimpinan GKJ yang Adaptif dan Visioner pada Era Disrupsi,” perayaan ini menegaskan kesadaran bahwa perubahan sosial, digitalisasi, dan pergeseran budaya generasi telah mengubah wajah pelayanan gereja secara fundamental.
Tantangan di Ambang Seabad
Berdiri sejak 17 Februari 1931, GKJ berkembang menjadi salah satu sinode Protestan besar di Indonesia dengan 347 gereja dewasa, sekitar 380 pendeta aktif, dan tersebar dalam 33 klasis. Dalam sejarahnya, GKJ melewati masa kolonial, revolusi kemerdekaan, Orde Baru, hingga era Reformasi.
Kini tantangannya berbeda. Gereja menghadapi arus digitalisasi, menguatnya individualisme, krisis makna di kalangan generasi muda, serta perubahan pola keberagamaan di ruang publik. Sistem presbiterial-sinodal yang selama ini menjadi fondasi pun diuji. Cukupkah ia lentur merespons perubahan cepat tanpa kehilangan kedalaman teologisnya?
Adaptif Tanpa Kehilangan Akar
Ketua Panitia HUT ke-95, Pdt. Apy Heny Hartiningsih, menyebut perayaan ini dirancang sebagai ruang syukur sekaligus diskursus. Selain liturgi kreatif bertema “Gereja sebagai Bahtera”, digelar pula talkshow kepemimpinan lintas tradisi gereja.
Hadir sebagai narasumber antara lain Martinus Joko Lelono, teolog Katolik yang aktif dalam dialog lintas iman, serta Simon Rachmadi, teolog dan pendeta GKJ yang menekuni spiritualitas Kristen.
Diskusi mengangkat pertanyaan mendasar: Bagaimana gereja beradaptasi tanpa terjebak pragmatisme? Bagaimana teknologi digital dimanfaatkan sebagai sarana pelayanan, bukan sekadar mengikuti tren? Dan bagaimana kepemimpinan menjembatani jarak antargenerasi dalam jemaat?

Lebih dari Sekadar Perayaan
Sekitar 400 peserta dari berbagai klasis dan lembaga sinode menghadiri peringatan tersebut. Momentum ini juga ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan asrama STAK Marturia, sebuah simbol komitmen GKJ pada pendidikan teologi dan regenerasi kepemimpinan.
Ketua Sinode GKJ, Pdt. Sundoyo, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada gereja-gereja sahabat, lembaga mitra, Pdt. Lee, PCK, Klasis Yogyakarta Utara, YPK Marturia, STAK Marturia, serta seluruh panitia pelaksana.
Ia mengingatkan prinsip kepemimpinan, “Setiap masa ada pemimpin, dan setiap pemimpin ada masanya,” seraya memberi penghormatan kepada para Ketua dan Sekretaris Badan Pelaksana Sinode dari berbagai periode.
Melalui perumpamaan, ia menegaskan, “Bukan ombak yang menenggelamkan kapal, melainkan air yang masuk ke dalam kapal.” Pesan ini menjadi refleksi bahwa ancaman terbesar gereja bukan selalu dari luar, melainkan ketika ia kehilangan kewaspadaan dan identitasnya sendiri.
Ke depan, GKJ didorong memprioritaskan pelayanan keluarga sebagai fondasi iman, sekaligus memberi ruang lebih luas bagi kaum muda. Generasi muda disebut bukan hanya penerus, melainkan pemimpin masa kini, leaders not tomorrow, but now. Gereja diharapkan menjadi rumah bersama, ruang hidup yang menghadirkan rasa memiliki bagi semua generasi.
Menjelang satu abad perjalanan, GKJ meneguhkan komitmen untuk tetap setia sekaligus adaptif. Jika hampir satu abad pertama adalah tentang bertumbuh dan mengokohkan identitas, maka bab berikutnya adalah tentang menjaga relevansi. Di sanalah kepemimpinan benar-benar diuji (sugeng ph/Red)
