KALEIDOSKOP PWGI 2025: MENEGUHKAN JURNALISME GEREJA DI TENGAH PERADABAN DIGITAL
Oleh: Dr. Dharma Leksana, M.Th., M.Si.
Ketua Umum Perkumpulan Wartawan Gereja Indonesia (PWGI)
Wartagereja.co.id – Jakarta, Tahun 2025 hampir berlalu. Di penghujung tahun ini, saya mengajak kita semua—wartawan gereja, pemimpin gereja, dan para pegiat pelayanan digital—untuk sejenak berhenti, menoleh ke belakang, dan merefleksikan perjalanan yang telah kita lalui bersama dalam Perkumpulan Wartawan Gereja Indonesia (PWGI).
Tahun ini mengajarkan satu hal yang mendasar: bahwa tantangan terbesar jurnalisme gereja di era digital bukan semata-mata teknologi, melainkan kesadaran panggilan. Dunia digital telah menjadi ruang publik utama, tempat nilai, kebenaran, dan kebohongan saling berhadapan. Dalam konteks inilah jurnalisme gereja dipanggil untuk hadir—bukan sebagai penonton, tetapi sebagai saksi.

Menegaskan Identitas: Jurnalisme sebagai Marturia
Sepanjang 2025, PWGI semakin meneguhkan jati dirinya sebagai gerakan jurnalisme marturia. Jurnalisme gereja tidak boleh direduksi menjadi sekadar dokumentasi kegiatan internal atau promosi institusional. Ia adalah bentuk kesaksian publik—marturia—yang menghadirkan nilai Kerajaan Allah di tengah realitas sosial yang kompleks dan majemuk.
Kesadaran ini tumbuh melalui diskusi, perjumpaan, dan refleksi bersama para wartawan gereja di berbagai daerah. Kami belajar bahwa pewartaan iman di ruang digital menuntut kejujuran intelektual, keberanian moral, dan tanggung jawab sosial.
Belajar dari Keterbatasan, Bertumbuh dalam Kesadaran
Tahun 2025 juga adalah tahun pembelajaran. Kami menyadari bahwa masih banyak wartawan gereja yang bekerja dengan semangat pelayanan, tetapi belum sepenuhnya dibekali kompetensi jurnalistik yang memadai. Di sinilah PWGI melihat pentingnya literasi digital, pelatihan jurnalistik, dan pemahaman etika pers sebagai fondasi pelayanan.
Kesadaran inilah yang melahirkan gagasan strategis Program “1 Gereja 2 Wartawan”—sebuah visi yang sederhana namun mendasar: setiap gereja memiliki pewarta yang mampu bekerja secara profesional, konsisten, dan bertanggung jawab di ruang publik digital.

Media Gereja: Dari Corong Internal ke Ruang Publik
Sepanjang tahun ini, kami juga merefleksikan peran media gereja. Media tidak lagi bisa dipahami sebagai papan pengumuman digital. Ia adalah ruang dialog iman, kebudayaan, dan kebangsaan. Media gereja harus mampu berbicara dengan bahasa yang dipahami publik luas, tanpa kehilangan identitas iman.
PWGI mendorong media gereja untuk menjadi sumber informasi yang kredibel, menyejukkan, dan membangun—terutama di tengah maraknya disinformasi, ujaran kebencian, dan polarisasi yang kerap mengatasnamakan agama.
Etika dan Kerukunan sebagai Pilihan Moral
Salah satu refleksi terpenting tahun 2025 adalah kesadaran bahwa etika bukan pilihan tambahan, melainkan inti jurnalisme gereja. Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, setiap berita yang kita tulis memiliki dampak sosial.
PWGI menegaskan bahwa jurnalisme gereja harus berdiri di pihak kerukunan, keadilan, dan kemanusiaan. Pewarta Kerajaan Allah tidak boleh menjadi bagian dari masalah sosial, tetapi harus menjadi bagian dari solusi.

Menuju Keberlanjutan Pelayanan Digital
Tahun 2025 juga membuka mata kami bahwa pelayanan digital membutuhkan keberlanjutan. Media gereja tidak dapat bergantung semata pada semangat voluntarisme. Dibutuhkan ekosistem yang menopang, termasuk pemberdayaan ekonomi jemaat dan solidaritas komunitas.
Refleksi ini menjadi dasar pemikiran pengembangan ekonomi digital gereja sebagai bagian dari pelayanan, bukan sebagai tujuan akhir, tetapi sebagai sarana untuk menjaga keberlangsungan marturia di era digital.
Menyongsong 2026 dengan Kerendahan Hati dan Harapan
Menutup tahun 2025, saya melihat PWGI bukan sebagai organisasi yang telah selesai, tetapi sebagai komunitas yang terus belajar. Tahun ini adalah tahun pematangan kesadaran. Tahun 2026 harus menjadi tahun aksi yang lebih terarah, terukur, dan berdampak.
Dengan segala keterbatasan dan harapan, PWGI melangkah ke tahun baru dengan satu tekad: menjadi pewarta Kerajaan Allah yang setia, profesional, dan relevan di tengah peradaban digital.
Kiranya refleksi ini menjadi undangan bagi kita semua untuk berjalan bersama—dengan iman, akal budi, dan tanggung jawab—menyongsong tahun 2026.
Dari Refleksi Menuju Resolusi: Menapaki 2026 dengan Arah yang Jelas
Refleksi atas perjalanan PWGI sepanjang tahun 2025 akhirnya bermuara pada satu kesimpulan penting: kesadaran tanpa keputusan hanya akan menjadi nostalgia, dan keputusan tanpa tindakan akan kehilangan makna. Karena itu, refleksi ini tidak kami akhiri dengan penyesalan atau romantisme masa lalu, melainkan dengan Resolusi PWGI Tahun 2026 sebagai kompas arah gerak ke depan.
Resolusi PWGI 2026 lahir dari pengalaman nyata, dialog kritis, dan pergumulan bersama sepanjang tahun 2025. Ia bukan sekadar dokumen administratif, melainkan pernyataan iman yang diterjemahkan ke dalam strategi organisasi. Melalui resolusi ini, PWGI menegaskan bahwa pewartaan Kerajaan Allah di era digital harus dikerjakan secara terencana, profesional, dan berkelanjutan.
Program “1 Gereja 2 Wartawan” adalah jawaban konkret atas refleksi kami tentang pentingnya kehadiran gereja di ruang publik digital. Komitmen terhadap pelatihan jurnalistik, penguatan media gereja, penjagaan etika dan kerukunan digital, serta pengembangan ekosistem ekonomi jemaat adalah wujud kesadaran bahwa marturia tidak dapat berjalan sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan sistem dan kolaborasi.
Dengan demikian, Resolusi PWGI 2026 menandai peralihan penting:
dari kesadaran menuju konsolidasi,
dari semangat menuju profesionalisme,
dari kehadiran simbolik menuju dampak nyata.
Sebagai Ketua Umum PWGI, saya menyadari sepenuhnya bahwa resolusi ini tidak akan berarti tanpa keterlibatan aktif gereja, wartawan gereja, dan seluruh mitra pelayanan. Namun saya juga percaya, dengan kerendahan hati dan komitmen bersama, PWGI dapat mengambil bagian dalam membangun peradaban digital yang lebih bermartabat—di mana jurnalisme tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menghadirkan harapan.

Kiranya tahun 2026 menjadi tahun ketika PWGI tidak hanya berbicara tentang Kerajaan Allah di ruang digital, tetapi ikut membangun tanda-tandanya secara nyata—melalui kata, karya, dan kesaksian yang bertanggung jawab.
