Natal BKSG Kabupaten Tegal: Ketaatan Dirayakan di Tengah Tekanan Zaman
WARTAGEREJA.CO.ID – SLAWI – Sore itu, Rabu (21/1/2026), Gedung Gereja Pentakosta Pusat Surabaya (GPPS) Immanuel Slawi tidak sekadar menjadi ruang ibadah jemaat GPPS Immanuel. Gereja menjadi ruang perjumpaan lintas denominasi, lintas tradisi, dan lintas latar belakang gereja. Ratusan jemaat datang membawa satu kerinduan yang sama, merayakan Natal dalam kebersamaan.
Di bawah naungan Badan Kerja Sama Gereja-Gereja (BKSG) Kabupaten Tegal, perayaan Natal bersama ini menjadi penanda bahwa iman tidak tumbuh dalam kesendirian. Ibadah yang dimulai pukul 17.00 WIB itu berlangsung tertib, lancar, dan penuh sukacita, diikuti ratusan jemaat dari berbagai gereja di wilayah Kabupaten Tegal.

Ibadah dan Acara Dirangkai dengan Keteraturan
Rangkaian ibadah dibuka dengan doa pengawalan, disusul pujian dan penyembahan yang penuh semangat dan sukacita. Suara vokal grup dan paduan suara dari GKJ Slawi, GKI Slawi, GBI Mejasem, hingga Komisi Wanita GPPS Immanuel silih berganti memenuhi ruang ibadah. Gereja-gereja yang tampil bukan untuk menonjolkan diri, melainkan saling melengkapi satu dengan yang lain, menambah kemeriahan dalam perbedaan.
Seksi Acara Natal, Sdri. Debby, menuturkan bahwa susunan acara disiapkan dengan penuh kehati-hatian. Bagi panitia, ketertiban bukan semata soal teknis, tetapi juga bagian dari spiritualitas ibadah.
“Rundown kami susun dan dibicarakan bersama, agar setiap pelayanan mendapat ruang yang proporsional. Kami ingin ibadah ini berjalan lancar, tertib, dan tetap menjaga kebersamaan Natal,” ujar Debby saat menjelaskan dalam pertemuan panitia Natal BKSG.
Ketelitian dalam penyusunan acara itu terasa manakala ibadah mengalir tanpa tergesa, memberi ruang bagi jemaat untuk sungguh-sungguh merenung, berefleksi, dan larut dalam ibadah.

Natal yang Tidak Selalu Nyaman
Tema “Ketaatan di Tengah Tekanan” menjadi inti perayaan Natal BKSG tahun ini. Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Dr. K.R.T. Sugeng Prihadi, yang mengajak jemaat melihat kembali Natal dari sudut yang sering terlupakan. Natal sebagai kisah ketaatan yang lahir dalam ketidakpastian.
Mengacu pada Lukas 1:38, Pdt. Sugeng mengangkat iman Maria, seorang perempuan muda yang menerima panggilan Allah bukan dengan jaminan kenyamanan, melainkan dengan risiko dan tekanan.
“Yesus tidak lahir di istana, tetapi di kandang. Sejak awal, Natal bukan tentang jalan aman, melainkan tentang ketaatan di tengah tekanan,” tutur Pdt. Sugeng.
Pesan itu menggema di tengah jemaat yang hidup dalam realitas zaman yang penuh tantangan. Natal, dalam refleksi tersebut, bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan undangan untuk taat, bahkan ketika iman jemaat diuji oleh situasi yang tidak ideal.

Persatuan yang Terlihat Nyata
Perayaan Natal BKSG Kabupaten Tegal diikuti oleh ratusan jemaat dari berbagai gereja. GPPS Immanuel Slawi sebagai tuan rumah mengirimkan peserta terbanyak. Dari gereja lain tampak hadir GKJ Slawi, GBI Mejasem, GBI Banjaran, GKI Bajem Slawi, GPPS Margasari, GBI Slawi, GKJ Mejasem, GBM Slawi, GMAHK Margasari, GPdI Banjaran, GPdI Suradadi, GSJA Slawi, dan GPdI Balapulang.
Jumlah peserta dari gereja-gereja mungkin berbeda, tetapi semangat yang dibawa sama yakni hadir sebagai satu tubuh Kristus.
Gereja yang Tidak Terpecah
Ketua BKSG Kabupaten Tegal, Pdt. Bambang Widjanarko, M.Pd., dalam sambutannya menekankan pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman denominasi.
“Kita adalah gereja-gereja yang berbeda latar belakang, tetapi kita tidak boleh terkotak-kotak. Justru dengan bersatu, kita dapat bersaksi sebagai terang di Kabupaten Tegal,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Majelis dan GPPS Immanuel Slawi sebagai tuan rumah, kepada pembicara, kepada hamba-hamba Tuhan serta kepada seluruh panitia yang telah bekerja dengan penuh dedikasi.
Senada dengan itu Pdm Niky S. Kartono, M.Th, Gembala Sidang GPPS Immanuel Slawi menyampaikan bahwa kebersamaan gereja-gereja dalam BKSG bukan sekadar agenda organisasi, melainkan wujud pengutusan bersama.
“Kebersamaan ini adalah panggilan Tuhan, agar gereja-gereja menjadi garam dan terang bagi dunia,” katanya.

Natal sebagai Kesaksian Bersama
Saat ibadah ditutup dengan doa berkat oleh Gembala Sidang GPPS Immanuel, satu per satu jemaat meninggalkan gedung gereja dengan membawa lebih dari sekadar sukacita Natal. Ada pesan yang tinggal, bahwa ketaatan tidak selalu mudah, dan persatuan tidak selalu instan, tetapi keduanya layak diperjuangkan.
Natal BKSG Kabupaten Tegal menjadi kesaksian bahwa di tengah tekanan zaman, gereja masih dapat berjalan bersama, bukan dengan meniadakan perbedaan, melainkan dengan merajutnya dalam kasih dan iman (sugeng ph/Red)
